Pembatik, satu kata yang tidak asing bagi
warga Kebumen, karena sebagian warga Kebumen berprofesi sebagai pengrajin batik. Pada awal pandemi melanda negeri
kita, pelatihan online atau daring jadi trend. Saat teman guru bertanya “bu Rob
ikut diklat daring apa? Maka saya jawab PembaTIK, tertawalah teman-teman yang
mendengarnya. “Kok ikut pembatik? Emang mau wirausaha bu? “ tanya teman
saya. Lalu saya terangkan bahwa PembaTIK
bukanlah pengrajin batik, namun pembelajaran berbasis TIK. “Siapa
penyelenggaranya bu?” Tanya teman lagi. “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan”
jawab saya mantap. “Waw keren dong” timpal teman yang lain. Saya jawab “Ya,
semoga saja saya dapat mengikuti dengan baik”.
PembaTIK level 1 saya ikuti tanpa kendala
berarti, karena hanya membaca modul dan menyelesaikan ujian akhir. Level 2
mulai berat saya rasakan, karena harus membuat vlog. Mengapa? Karena pada
dasarnya saya sangat tidak bersahabat dengan kamera. Setelah waktu hampir habis, akhirnya saya tekadkan untuk
membuatnya. Peralatan yang saya punya hanya handpone. Saya tidak berani acting
di depan orang lain maka orang yang paling mungkin membantu saya hanyalah anak
saya. Alhamdulillah jadilah vlognya, dan ternyata saya lulus ke level 3. Tugas di
level 3 ada dua pilihan yaitu membuat video pembelajaran atau media Pembelajaran Interaktiv (MPI). Sdh bisa dipastikan saya memilih MPI, karena
tidak harus bergaya di depan kamera. Ternyata membuat MPI tidak semudah yang
saya bayangkan, karena alat yang kurang memadai, akhirnya sampai hari terakhir
MPI alakadarnya selesai, dan saya kirimkan. Ternyata saya lulus level 3.
Setelah pengumuman level 3 tdk pernah saya
ikuti info PembaTIK level 3, karena tidak terlintas akan masuk level 4, hingga
suatu sore saat masih di sekolah saya
dapati notifikasi WA dari DRB Jateng yaitu Bu Asih Prihatin, bahwa saya lolos
ke level 4. Saya terdiam beberapa saat, karena saya sangat tidak berharap.
Mengapa sangat tidak berharap? Pertama karena saya sadar diri bahwa kemampuan TIK
saya sangat minim, kedua ketika saya ikut level 4 saya harus meluangkan waktu
yang cukup banyak, padahal 90% waktu produktif saya sudah habis oleh beban
kerja di madrasah sebagai seorang wakil kepala madrasah. Namun setelah
mengikuti kuliah umum PembaTIK level 4
yang dibuka oleh Mas menteri Nadim Anwar Makarim, semangat untuk terus
mengikuti PembaTIK level 4 kembali menyala.
Menjaga semangat bukanlah hal yang mudah,
saat mengikuti kuliah umum begitu menggebu, namun saat harus kembali bergelut
dengan tugas utama, semangat kembali meluruh. Saat semangat meluruh, terlintas
dalam pikiran”PANTASKAH JIKA MENYERAH’?. Terngiang kembali satu kalimat yang
selama ini menjadi motto hidup yaitu : “Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang
mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau
menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi). Dengan niat menuntut
ilmu, saya ikuti PembaTIK Level 4, yaitu level berbagi. Meski belum seberapa
ilmu yang saya punya, namun berbagi tak akan mengurangi. Dengan berbagi kita
memperbaiki diri, dengan berbagi kita memperkaya diri. Muara dari PembaTIK Level 4 adalah menjadi Duta Rumah Belajar, mitra Kementerian Pendidikan dan kebudayaan dalam Pengembangan Pemanfaat TIK dalam Pembelajaran
Menjadi Duta Rumah Belajar adalah Wahana Berbagi, Menggapai Ridla Illahi


Mantap Bu, sangat menginspirasi
BalasHapusTerus berusaha melakukan yang terbaik..
BalasHapus