Minggu, 04 Oktober 2020

BELAJAR TIADA BATAS, BERBAGI TAK MENGURANGI

Pembatik, satu kata yang tidak asing bagi warga Kebumen, karena sebagian warga Kebumen berprofesi sebagai pengrajin batik. Pada awal pandemi melanda negeri kita, pelatihan online atau daring jadi trend. Saat teman guru bertanya “bu Rob ikut diklat daring apa? Maka saya jawab PembaTIK, tertawalah teman-teman yang mendengarnya. “Kok ikut pembatik? Emang mau wirausaha bu? “ tanya teman saya.  Lalu saya terangkan bahwa PembaTIK bukanlah pengrajin batik, namun pembelajaran berbasis TIK. “Siapa penyelenggaranya bu?” Tanya teman lagi. “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan” jawab saya mantap. “Waw keren dong” timpal teman yang lain. Saya jawab “Ya, semoga saja saya dapat mengikuti dengan baik”.

PembaTIK level 1 saya ikuti tanpa kendala berarti, karena hanya membaca modul dan menyelesaikan ujian akhir. Level 2 mulai berat saya rasakan, karena harus membuat vlog. Mengapa? Karena pada dasarnya saya sangat tidak bersahabat dengan kamera. Setelah waktu hampir habis, akhirnya saya tekadkan untuk membuatnya. Peralatan yang saya punya hanya handpone. Saya tidak berani acting di depan orang lain maka orang yang paling mungkin membantu saya hanyalah anak saya. Alhamdulillah jadilah vlognya, dan ternyata saya lulus ke level 3. Tugas di level 3 ada dua pilihan yaitu membuat video pembelajaran atau media Pembelajaran Interaktiv (MPI). Sdh bisa dipastikan saya memilih MPI, karena tidak harus bergaya di depan kamera. Ternyata membuat MPI tidak semudah yang saya bayangkan, karena alat yang kurang memadai, akhirnya sampai hari terakhir MPI alakadarnya selesai, dan saya kirimkan. Ternyata saya lulus level 3.

Setelah pengumuman level 3 tdk pernah saya ikuti info PembaTIK level 3, karena tidak terlintas akan masuk level 4, hingga suatu sore saat  masih di sekolah saya dapati notifikasi WA dari DRB Jateng yaitu Bu Asih Prihatin, bahwa saya lolos ke level 4. Saya terdiam beberapa saat, karena saya sangat tidak berharap. Mengapa sangat tidak berharap? Pertama karena saya sadar diri bahwa kemampuan TIK saya sangat minim, kedua ketika saya ikut level 4 saya harus meluangkan waktu yang cukup banyak, padahal 90% waktu produktif saya sudah habis oleh beban kerja di madrasah sebagai seorang wakil kepala madrasah. Namun setelah mengikuti  kuliah umum PembaTIK level 4 yang dibuka oleh Mas menteri Nadim Anwar Makarim, semangat untuk terus mengikuti PembaTIK level 4 kembali menyala.

Menjaga semangat bukanlah hal yang mudah, saat mengikuti kuliah umum begitu menggebu, namun saat harus kembali bergelut dengan tugas utama, semangat kembali meluruh. Saat semangat meluruh, terlintas dalam pikiran”PANTASKAH JIKA MENYERAH’?. Terngiang kembali satu kalimat yang selama ini menjadi motto hidup yaitu : “Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi). Dengan niat menuntut ilmu, saya ikuti PembaTIK Level 4, yaitu level berbagi. Meski belum seberapa ilmu yang saya punya, namun berbagi tak akan mengurangi. Dengan berbagi kita memperbaiki diri, dengan berbagi kita memperkaya diri. Muara dari PembaTIK Level 4 adalah menjadi Duta Rumah Belajar, mitra Kementerian Pendidikan dan kebudayaan dalam Pengembangan Pemanfaat TIK dalam Pembelajaran

 

Menjadi Duta Rumah Belajar adalah Wahana Berbagi, Menggapai Ridla Illahi 

2 komentar:

Postingan Unggulan

LATIHAN SOAL MEDAN LISTRIK

 

Postingan Populer