Fisika Santuy Manda
Blog ini adalah sarana berbagi cerita, belajar fisika, belajar tentang kehidupan dengan fisika
Rabu, 13 September 2023
LATIHAN SOAL GAYA COULOMB
- Muatan qA = +5 µC berada di kiri muatan qB = +2 µC dan terpisah sejauh 20 cm. Jika muatan lain (q= -1 µC) diletakkan di titik C yang berjarak 10 cm tepat di sebelah kiri muatan qA, , resultan gaya yang dialami q adalah ….
- Tiga muatan listrik berada pada posisi titik sudut segitiga ABC, Panjang sisi AB = BC = 20 cm, dan besar muatan sama yaitu q=2 µC . Tentukan besar gaya Coulomb yang bekerja di titik B
Selasa, 18 Oktober 2022
Best Practise
LAPORAN BEST PRACTICE
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR FISIKA DI MASA PANDEMI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION (STAD)
Siti Robiyatun, S. Pd.
MAN 2 Kebumen
Robimanda2000@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas untuk mengatasi masalah dalam
pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan dan hasil
belajar peserta didik dalam pembelajaran fisika secara online/daring dengan
menerapkan model pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD), pada
peserta didik kelas XII IPA 2 MAN 2 Kebumen tahun pelajaran 2021/2022. Tindakan
dilaksanakan dalam dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua
pertemuan. Prosedur tindakan yang dilakukan adalah (1) perencanaan (2)
pelaksanaan/pemberian tindakan (3) pengamatan (4) refleksi. Pengumpulan data
melalui observasi, angket, tes tertulis, dan dokumentasi. Observasi dilakukan
terhadap proses pembelajaran melalui Google Classroom (GC), grup WA, rekaman
Google Meet, dan video rekaman proses diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar mengalami peningkatan cukup signifikan yaitu 55%, dari yang semula
25% menjadi 80 % di pertemuan terakhir, sedangkan prosentase ketuntasan peserta
didik naik yaitu 17,6%, dari yang semula 57% menjadi 74,6 % di pertemuan
terakhir. Dari data tersebut dapat dinyatakan bahwa penerapan model
pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD) dapat meningkatkan
keaktivan dan hasil belajar fisika.
Kata Kunci : STAD,
Keaktifan dan hasil belajar
PENDAHULUAN
Pandemi covid-19 memaksa lembaga pendidikan
untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. MAN 2 Kebumen melaksanakan
pembelajaran secara daring sejak Maret 2020. Dalam proses pembelajaran fisika
secara daring tahun pelajaran 2020/2021 di MAN 2 Kebumen, diperoleh data keaktifan
peserta didik hanya 25 % dan ketuntasan belajar fisika peserta didik 57%. Melihat
fakta tersebut maka diperlukan
perbaikan pembelajaran agar
mengurangi learning loss. Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah menerapkan
model pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa percaya diri peserta didik dan
dapat meningkatkan partisipasi atau keaktifan dan hasil belajar peserta didik, yaitu model
pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD).
Tujuan kegiatan yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan
peningkatan keaktifan dan hasil belajar fisika
materi Medan Magnetik pada peserta didik kelas XII IPA-2 MAN 2 Kebumen tahun pelajaran
2021/2022 melalui model pembelajaran Student Teams Achievment Divisions (STAD).
Manfaat praktis kegiatan ini bagi peserta
didik adalah meningkatkan
keaktifan atau partisipasi peserta dan akhirnya akan meningkatkan hasil belajar.
Bagi
guru diharapkan dapat meningkatkan
rasa percaya diri guru/pendidik, meningkatkan motivasi untuk terus berinovasi, meningkatkan
kemampuan
memecahkan masalah dalam pembelajaran, dan pada akhirnya meningkatnya kinerja. Bagi madrasah adalah meningkatnya kinerja guru.
Meningkatnya kinerja guru akan berimbas pada meningkatnya mutu sekolah secara keseluruhan. Secara
teoritis, penelitian ini membuktikan bahwa model pembelajaran STAD, tidak hanya
dapat diterapkan secara offline, namun dapat diterapkan secara online/daring.
LANDASAN TEORI
Pengertian Keaktifan Belajar
Aktif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah giat (bekerja, berusaha). Keaktifan berasal
dari kata aktif yang mendapat imbuhan ke-an menjadi keaktifan yang berarti kegiatan, kesibukan. Pada Penelitian
ini keaktifan yang dimaksud adalah keaktifan belajar siswa. Belajar adalah sebuah aktivitas untuk menguasai sesuatu
yang hasilnya ditandai dengan adanya perubahan. Perubahan
sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti
perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan,
kecakapan, dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain. Selaras dengan pendapat Hanafy Muh Sain
(2014:71) bahwa belajar merupakan aktivitas psiko dan fisik yang menghasilkan
perubahan atas pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang relatif konstan.
Menurut
Ihsana El Khuluqo (2017:8) belajar merupakan kebutuhan asasi manusia, yaitu
untuk mendapatkan pengetahuan tentang berbagai hakikat, sehingga hasil dari belajar adalah adanya
perubahan dalam pengetahuan. Perubahan dalam pengetahuan akan berimbas pada
perubahan-perubahan yang lain. Berdasarkan uraian di atas keaktifan belajar
adalah keterlibatan peserta didik baik secara fisik ataupun psikis dalam proses
pembelajaran. Elis Nurhayati (2020) berpendapat bahwa keaktifan
belajar adalah suatu keadaan dimana siswa dapat melakukan berbagai kegiatan
yang aktif baik jasmanai maupun rohani seperti pembelajaran dalam kelas,
pembelajaran jarak jauh yang lebih dikenak pembelajaran daring, memecahkan
masalah, mengemukakan pendapat guna membantu memperoleh pemahaman kepada
dirinya sendiri terkait materi yang dibahas.
Indikator
Keaktifan Belajar
Menurut
Rusman (2017: 407-408) keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran
meliputi (a) kegiatan fisik yaitu keikutsertaan dalam pembelajaran baik dalam
kelas ataupun diluar kelas; (b) kegiatan eksperimental, yaitu keikut sertaan
peserta didik melalui kegiatan menemukan sesuatu; (c) keterlibatan peserta
didik dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif; (d) keterlibatan peserta
didik dalam mencari dan memanfaatkan sumber belajar; (e) terjadinya interaksi
multi arah. Elis Nurhayati (2020) berpendapat bahwa indikator
keaktifan belajar adalah mampu memecahkan masalah, mampu bekerjasama, mampu
mengemukkakan pendapat, mampu mengemukakan gagasan atau ide dan perhatian
Keaktifan siswa dalam pembelajaran menurut Sudjana (2010) dirumuskan dalam beberapa
indicator yaitu: (a) Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, (b)
Terlibat dalam pemecahan masalah, (c) Bertanya kepada siswa lain/ kepada guru,
(d) Berusaha mencari berbagai informasi yang diperoleh untuk pemecahan masalah,
(e) Melaksanakan diskusi kelompok, (f) Menilai kemampuan dirinya dan hasil yang
diperolehnya, (g) Kesempatan menggunakan/menerapkan apa yang diperolehnya,
Berdasarkan uraian di atas dirumuskan bahwa indikator
keaktifan peserta didik dalam pembelajaran adalah (a) memperhatikan saat guru
memberikan penjelasan, (b) mengajukan pertanyaan kepada guru terkait materi
yang disampaikan, (c) menjawab pertanyaan dari guru terkait materi pelajaran
yang disampaikan, (d) menyumbangkan ide yang didiskusikan dalam kelompok, (e) membantu dalam mencari jawaban teman dalam kelompok,
dan (f) memberikan ide/pendapat pada kelompok.
Hasil Belajar
Hasil belajar dapat
diartikan sebagai perubahan-perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui
proses belajar. Hal ini selaras
dengan pendapat Rusman (2017:130) bahwa hasil belajar adalah sejumlah
pengalaman yang diperoleh peserta didik yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan,
dan sikap. Menurut Daryanto dan Tutik (2015:37-38) hasil belajar adalah adanya
perubahan tingkah laku individu yang disadari, bersifat kontinu, bermanfaat,
dan positif.
Menurut
Jihad (2013:14) haasil belajar adalah pencapaian perubahan perilaku yang
cenderung menetap dari aspek kognitif, psikomotor dan afektif dari proses
belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu. Perubahan
yang dimaksud adalah perubahan dalam
pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Diantara tiga aspek itu aspek pengetahuan yang
paling lazim
diistilahkan dengan hasil belajar,
yaitu berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam
menguasai materi pembelajaran.
Pembelajaran Kooperatif
Model STAD
Student
Teams Achievment Division (STAD) adalah model pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana, yang memadukan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi (Sani Abdullah
Ridwan, 2013:133), At-Thabany (2017:122) juga menyatakan bahwa pembelajaran
kooperatif model STAD merupakan pembelajaran kooperatif yang sederhana, karena
masih ada fase penyampaian informasi atau penyajian materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif
atau sering disebut cooperative learning
adalah model pembelajaran yang
mendorong peserta didik untuk aktif bertukar pikiran dalam menyelesaikan
masalah (Sukardi Ismail, 2013:139). Al-Thabany (2017:111) menyatakan bahwa
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja peserta didik dalam
tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu peserta didik memahami konsep yang
sulit. Pembelajaran kooperatif memberikan keuntungan kepada peserta didik
kelompok bawah dan kelompok atas. Menurut Anita Lie yang dikutip oleh Sukardi Ismail, Cooperative learning memiliki lima unsur yang harus diterapkan yaitu (a) saling ketergantungan
positif, (b) tanggung jawab perseorangan,
(c) tatap muka,
(d) komunikasi antar anggota, (e) evaluasi proses kelompok
Sintak Pembelajaran Kooperatif
Model STAD
Prosedur
pembelajaran STAD menurut Sani Ridwan Abdullah (2013:134) dan menurut Budiyanto
Moch. Agus Krisno (2016:137-138) tidak jauh beda yaitu (a) pembentukan
kelompok, satu kelompok terdiri dari 4-5 orang yang heterogen kemampuannya, (b)
guru menyajikan pelajaran, (c) guru memberikan tugas yang harus diselesaikan
bersama dalam kelompok. (d) guru memberikan kuis/pertanyaan, peserta didik
menjawab secara individual dan tidak boleh kerja sam, (e) guru memberi evaluasi,
dan (f) guru memberikan penghargaan. Secara ringkas Sharan (2012:18)
menerangkan bahwa aktivitas pembelajaran model STAD terdiri dari empat langkah,
yaitu (1) mengajar, guru memberikan pelajaran, (b) belajar kelompok, peserta
didik mengerjakan lembar tugas dalam kelompok mereka untuk memahami materi, (c)
tes, peserta didik mengikuti kuis perorangan, dan (4) penghargaan kelompok,
nilai kelompok dihitung berdasarkan pada nilai kemajuan para anggotanya dan
penghargaan diberikan kepada kelompok yang memiliki nilai tertinggi.
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, sintak pembelajaran STAD yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut.
a.
Pembukaan dengan doa, apersepsi, dan
penjelasan mekanisme kerja (pembentukan kelompok dilakukan sebelum
pembelajaran)
b.
Menyampaikan materi energi dan daya dalam
bentuk (file pdf/word atau video) ke dalam kelas dlm Google Classroom
c.
Peserta didik mengerjakan soal
latihan secara kelompok, guru mendampingi dan melayani konsultasi melalui chat
WA (japri)
d.
Pemberian kuis secara individu
e.
Pemberian penghargaan kepada
kelompok dengan hasil kuis terbaik
f.
Membuat kesimpulan tentang materi
pembelajaran bersama dengan peserta didik
g.
Memberi penguatan tentang materi
yang dibahas
h.
Menyampaikan tentang materi yang
akan dibahas pada pertemuan berikutnya
i. Memberikan tugas.
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran STAD
Menurut
Asmani Ma’mur Jamal (2016: 57-59) ada beberapa manfaat
pembelajaran kooperatif bagi peserta
didik, diantaranya (a) suasana kelas menjadi lebih hidup, (b) meningkatkan keaktifan, (c)
mampu mengembangkan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan, (d) mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, kreatif dan reflektif, (e) mengembangkan kesadaran
diri terhadap masalah sosial di lingkungan sekitarnya, (f) melatih kemampuan
berkomunikasi, sehingga meningkatkan rasa percaya diri. Kelebihan model
pembelajaran STAD menurut Budiyanto (2016:143) adalah (a) meningkatkan
kerjasama dan kepekaan sosial, (b) meningkatkan pencurahan pada
waktu tugas, (c) meningkatkan harga diri dan memperbaiki
sikap ilmiah, (d) memperbaiki kehadiran, dan (e) penerimaan
terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar.
Kekurangan
model pembelajaran STAD adalah (a) jika kerja sama kelompok tidak ada, maka
tugas tidak akan selesai tepat waktu, (b) jika ada salah satu anggota kelompok
berperilaku menyimpang, akan mempengaruhi yang lain, ((c) dapat mengganggu
lingkungan jika situasi diskusi gaduh, (d) ketidakhadiran salah satu anggota
kelompok akan mempengaruhi kinerja kelompok, dan (e ) ika pemanfaatan waktu
dalam kelompok tidak baik, maka tugas tidak selesai tepat waktu.
Untuk
keberhasilan pembelajaran kooperatif model STAD ada dua hal yang harus
diperhatikan, yaitu (1) guru harus mengetahui kemampuan
setiap siswa didalam kelas, implikasinya pemerataan tingkat kompetensi dari
masing-masing kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD; (2) guru membuat
persiapan dengan baik, implikasinya pembelajaran lebih teratur sebab ada langkah-langkah pembelajarna yang telah
diuraikan terlebih dahulu, disamping itu guru benar-benar siap untuk
melaksanakan pembelajaran karena sudah mempersiapkan terlebih dahulu
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Kegiatan dilaksanakan di
kelas XII IPA-2 Madrasah Aliyah Negeri 2 Kebumen yang terdiri dari 30 anak
dengan rincian 12 laki-laki dan 22 perempuan. Kegiatan dilakukan pada semester gasal tahun
pelajaran 2021/2022, yaitu bulan Juni 2021 sampai dengan September 2021. Pelaksanaan
pada hari Selasa 2 jam pelajaran (2x45 menit), dimulai pukul 08.30 sampai pukul
10.00 dan hari Jumat 3 jam pelajaran (3x45 menit), dimulai pukul 08.30 sampai
pukul 10.45.Pelaksanaan dilakukan dengan pembelajaran daring, karena
kondisi yang belum mengizinkan untuk pembelajaran tatap muka. Dalam kegiatan ini dipilih materi pokok Medan Magnetik, karena materi Medan Magnetik
(Medan Magnet Induksi) adalah materi baru yang belum diberikan di SMP/MTs, dan
materi ini dianggap sebagai materi yang sulit. Materi Medan Magnetik terdiri
dari beberapa sub materi yaitu Medan Magnet di sekitar kawat lurus, Medan
Magnet di pusat kawat melingkar, Medan Magnet di sumbu solenioda dan Gaya
Magnet atau Gaya Lorentz.
Prosedur Penelitian
Kegiatan dilaksanakan dalam dua siklus.
Masing-masing siklus dilaksanakan dengan empat tahapan yaitu perencanaan,
tindakan, pengamatan dan refleksi. Siklus pertama terdiri dari dua pertemuan
dan siklus kedua terdiri dari dua pertemuan.
1.
Perencanaan, meliputi penyusunan RPP, penyiapan bahan
ajar, merancang instrumen untuk mengamati proses pembelajaran dan instrumen
penilaian, berkoordinasi dengan guru sejawat sebagai observer.
2.
Tindakan,
pelaksanaan kegiatan sesuai dengan RPP.
3. Pengamatan, dilakukan oleh dilakukan oleh guru dan
observer terhadap proses pembelajaran dalam Google Classroom, WA grup, dan pengamatan
terhadap vidio rekaman proses pembelajaran.
4. Refleksi, dilakukan bersama dengan guru sejawat
(observer) berdasarkan hasil analisis dari data pengamatan yang diperoleh oleh guru,
guru observer dan peserta didik, serta hasil test pada akhir siklus.
Analisis Data
Analisis
data dalam kegiatan ini dilakukan dengan
analisis deskriptif. Analisis deskriptif adalah analisis data
yang hanya menguraikan dan
menerangkan keadaan atau persoalan tanpa menarik kesimpulan terhadap data yang
lebih luas atau dari populasi (Mahali : 2016,19).
1. Tingkat Keaktifan
Tingkat keaktifan peserta didik
secara perorangan dihitung dengan membandingkan skor capaian dan skor maksimum.
Kemudian dibuat prosentase, sehingga akan lebih mudah mendeskripsikannya.
Persamaan untuk menghitung keaktifan individual adalah sebagai berikut :
Kriteria PAP keaktifan belajar
yang digunakan, berdasarkan acuan penilaian aspek sikap dalam kurikulum 2013
yang dikutip oleh Herman dan Yustiana (2014) yaitu:
|
Nilai |
Predikat |
Kriteria Keaktifan Belajar |
|
81 – 100 |
SB |
Sangat Aktif |
|
66 – 80 |
B |
Aktif |
|
51 – 65 |
C |
Cukup aktif |
|
0 – 50 |
K |
Kurang aktif |
2. Hasil Belajar
Hasil belajar peserta didik
dihitung berdasarkan skor perolehan dalam tes.
Sedangkan rata-rata hasil belajar peserta
didik dihitung dengan membandingkan jumlah seluruh skor yang diperoleh peserta
didik dengan jumlah skor total maksimal.
3. Ketuntasan Belajar
Untuk menghitung ketuntasan
belajar individual menggunakan acuan pada KTSP madrasah yaitu 70. Jika peserta
didik mendapatkan skor tes kurang dari 70, dinyatakan belum tuntas dan jika
capaian skor tes 70 atau lebih, maka dinyatakan tuntas. Ketuntasan klasikal
dihitung dengan menghitung jumlah peserta didik yang tuntas dibandingkan dengan
jumlah peserta didik dalam kelas tersebut.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.
Peningkatan Keaktifan Belajar
Data
keaktifan peserta didik sebelum dilaksanakan tindakan ditinjau dari kehadiran peserta didik
dalam video konferen, dalam 10 menit pertama hanya 25%. Dalam kegiatan video
konferen hanya satu atau dua peserta didik yang berani bertanya. Guru memberi
kesempatan pada peserta didik untuk bertanya bukan hanya melalui video
konferen, juga melalui chat WA, namun peserta didik tidak ada yang bertanya
melalui chat WA. Dengan pembelajaran
asinkronus peserta didik di kelas XII IPA-2 yang mengerjakan latihan soal tepat
waktu hanya 13 % yaitu 4 anak dari 30 anak.
Data keaktifan peserta didik setelah tindakan terekap dalam tabel dan grafik berikut:
Tabel 2. Keaktifan belajar berdasarkan angket
|
KATEGORI |
SIKLUS 1 |
SIKLUS 2 |
|
Sangat aktif |
9 |
11 |
|
Aktif |
17 |
15 |
|
Cukup aktif |
4 |
4 |
|
Kurang aktif |
0 |
0 |
|
Tngkat keaktifan klasikal |
87% |
87% |
Grafik 1.
Keaktifan berdasarkan observasi
Keaktifan
rata-rata peserta didik sebelum tindakan adalah 25%, setelah tindakan
berdasarkan angket pada siklus 1 dan siklus 2 adalah sama yaitu 87%, sedangkan keaktifan
berdasarkan observasi oleh guru dan kolaborator bervasriasi. Pada siklus 1
pertemuan pertama prosentase keaktifan klasikal adalah 53,3 %. Siklus 1 pertemuan
kedua prosentase keaktifan klasikal adalah 70,0 %. Pada siklus 2 pertemuan
pertama prosentase keaktifan klasikal adalah 76,7 %. Sedangkan pada siklus 2
pertemuan 2 prosentase keaktifan klasikal adalah 80,0 %. Berdasarkan data-data
di atas menunjukkan bahwa keaktifan peserta didik dalam pembelajaran setelah
menerapkan pembelajaran model Student Teams Achievment Division (STAD) naik
secara signifikan.
2.
Peningkatan hasil belajar
Rata-rata hasil penilaian kelas XII IPA-2 setelah
penerapan dipaparkan dalam grafik berikut:
Grafik 2. Nilai capaian klasikal
Grafik 3. Ketuntasan belajar sebelum dan sesudah tindakan
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil pengolahan data dan analisis data, maka diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
1.
Penerapan model pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD)
pada materi medan magnet di kelas XII IPA-2 MAN 2 Kebumen tahun pelajaran
2021/2022 mampu meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran.
2.
Penerapan model pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD)
pada materi medan magnet di kelas XII IPA-2 MAN 2 Kebumen tahun pelajaran
2021/2022 mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Asmani Jamal Ma’mur. 2016. Tips Efektif Cooperative Learning. Yogyakarta, Diva Press.
Hanafy Muh. Sain. 2014. Konsep Belajar dan Pembelajaran. Lentera Pendidikan Vol. 17 No. 1 Juni 2014.
Sukardi Ismail. 2013. Model-model Pembelajaran Moderen. Yogyakarta. Tunas Gemilang Press.
Postingan Unggulan
Postingan Populer
-
Laboratorium Maya adalah solusi tepat pembelajaran jarak jauh bagi mata pelajaran IPA yang memerlukan praktikum. Laboratorium Maya dapat dig...
-
Grup Pembelajar Madrasah Indonesia (GPMI) adalah komunitas guru-guru madrasah yang memiliki keinginan untuk berdiskusi tenta...

