Rabu, 13 September 2023

LATIHAN SOAL MEDAN LISTRIK

 


LATIHAN SOAL GAYA COULOMB

  1. Muatan qA = +5 µC berada di kiri muatan qB = +2 µC dan terpisah sejauh 20 cm. Jika muatan lain (q= -1 µC) diletakkan di titik C yang berjarak 10 cm tepat di sebelah kiri muatan qA, , resultan gaya yang dialami q adalah ….
  2. Tiga muatan listrik berada pada posisi titik sudut segitiga ABC, Panjang sisi AB = BC = 20 cm, dan besar muatan sama yaitu q=2 µC . Tentukan besar gaya Coulomb yang bekerja di titik B
3. Diketahui dua muatan di titik A  adalah -2 µC  dan di titik B +8 µC. Jarak AB = 30 cm. Jika suatu muatan q = -3 µC diletakkan segaris muatan A dan B, tentukan letak q agar gaya Coulomb yang dialami q sama dengan nol!

Selasa, 18 Oktober 2022

Best Practise

 LAPORAN BEST PRACTICE

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR FISIKA DI MASA PANDEMI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN  STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION (STAD)

 

Siti Robiyatun, S. Pd.

MAN 2 Kebumen

Robimanda2000@gmail.com

 

 

ABSTRAK

 

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran fisika secara online/daring dengan menerapkan model pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD), pada peserta didik kelas XII IPA 2 MAN 2 Kebumen tahun pelajaran 2021/2022. Tindakan dilaksanakan dalam dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Prosedur tindakan yang dilakukan adalah (1) perencanaan (2) pelaksanaan/pemberian tindakan (3) pengamatan (4) refleksi. Pengumpulan data melalui observasi, angket, tes tertulis, dan dokumentasi. Observasi dilakukan terhadap proses pembelajaran melalui Google Classroom (GC), grup WA, rekaman Google Meet, dan video rekaman proses diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar mengalami peningkatan cukup signifikan yaitu 55%, dari yang semula 25% menjadi 80 % di pertemuan terakhir, sedangkan prosentase ketuntasan peserta didik naik yaitu 17,6%, dari yang semula 57% menjadi 74,6 % di pertemuan terakhir. Dari data tersebut dapat dinyatakan bahwa penerapan model pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD) dapat meningkatkan keaktivan dan hasil belajar fisika.

 

Kata Kunci : STAD, Keaktifan dan hasil belajar

 


 


PENDAHULUAN

 

Pandemi covid-19 memaksa lembaga pendidikan untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. MAN 2 Kebumen melaksanakan pembelajaran secara daring sejak Maret 2020. Dalam proses pembelajaran fisika secara daring tahun pelajaran 2020/2021 di MAN 2 Kebumen, diperoleh data keaktifan peserta didik hanya 25 % dan ketuntasan belajar fisika peserta didik 57%. Melihat fakta tersebut maka diperlukan perbaikan pembelajaran agar mengurangi learning loss. Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa percaya diri peserta didik dan dapat meningkatkan partisipasi atau keaktifan dan  hasil belajar peserta didik, yaitu model pembelajaran  Student Teams Achievment Division (STAD).

Tujuan kegiatan yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan peningkatan keaktifan dan hasil belajar fisika materi Medan Magnetik pada peserta didik kelas XII IPA-2 MAN 2 Kebumen tahun pelajaran 2021/2022 melalui model pembelajaran Student Teams Achievment Divisions (STAD).  Manfaat praktis kegiatan ini bagi peserta didik adalah meningkatkan keaktifan atau partisipasi peserta dan akhirnya akan meningkatkan hasil belajar. Bagi guru diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri guru/pendidik, meningkatkan motivasi untuk terus berinovasi, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dalam pembelajaran, dan pada akhirnya mening­katnya kinerja. Bagi madrasah adalah meningkatnya kinerja guru. Meningkatnya kinerja guru akan berimbas pada meningkatnya mutu sekolah secara keseluruhan. Secara teoritis, penelitian ini membuktikan bahwa model pembelajaran STAD, tidak hanya dapat diterapkan secara offline, namun dapat diterapkan secara online/daring.

 

LANDASAN TEORI

Pengertian Keaktifan Belajar

Aktif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah giat (bekerja, berusaha). Keaktifan berasal dari kata aktif yang mendapat imbuhan ke-an menjadi keaktifan yang berarti kegiatan, kesibukan. Pada Penelitian ini keaktifan yang dimaksud adalah keaktifan belajar siswa. Belajar adalah sebuah aktivitas untuk menguasai sesuatu yang hasilnya ditandai dengan adanya perubahan. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain. Selaras dengan pendapat Hanafy Muh Sain (2014:71) bahwa belajar merupakan aktivitas psiko dan fisik yang menghasilkan perubahan atas pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang relatif  konstan.

Menurut Ihsana El Khuluqo (2017:8) belajar merupakan kebutuhan asasi manusia, yaitu untuk mendapatkan pengetahuan tentang berbagai hakikat, sehingga hasil dari belajar adalah adanya perubahan dalam pengetahuan. Perubahan dalam pengetahuan akan berimbas pada perubahan-perubahan yang lain. Berdasarkan uraian di atas keaktifan belajar adalah keterlibatan peserta didik baik secara fisik ataupun psikis dalam proses pembelajaran. Elis Nurhayati (2020) berpendapat bahwa keaktifan belajar adalah suatu keadaan dimana siswa dapat melakukan berbagai kegiatan yang aktif baik jasmanai maupun rohani seperti pembelajaran dalam kelas, pembelajaran jarak jauh yang lebih dikenak pembelajaran daring, memecahkan masalah, mengemukakan pendapat guna membantu memperoleh pemahaman kepada dirinya sendiri terkait materi yang dibahas.

 

Indikator Keaktifan Belajar

Menurut Rusman (2017: 407-408) keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran meliputi (a) kegiatan fisik yaitu keikutsertaan dalam pembelajaran baik dalam kelas ataupun diluar kelas; (b) kegiatan eksperimental, yaitu keikut sertaan peserta didik melalui kegiatan menemukan sesuatu; (c) keterlibatan peserta didik dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif; (d) keterlibatan peserta didik dalam mencari dan memanfaatkan sumber belajar; (e) terjadinya interaksi multi arah. Elis Nurhayati (2020) berpendapat bahwa indikator keaktifan belajar adalah mampu memecahkan masalah, mampu bekerjasama, mampu mengemukkakan pendapat, mampu mengemukakan gagasan atau ide dan perhatian

Keaktifan siswa dalam pembelajaran menurut Sudjana (2010) dirumuskan dalam beberapa indicator yaitu: (a) Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, (b) Terlibat dalam pemecahan masalah, (c) Bertanya kepada siswa lain/ kepada guru, (d) Berusaha mencari berbagai informasi yang diperoleh untuk pemecahan masalah, (e) Melaksanakan diskusi kelompok, (f) Menilai kemampuan dirinya dan hasil yang diperolehnya, (g) Kesempatan menggunakan/menerapkan apa yang diperolehnya,

Berdasarkan uraian di atas dirumuskan bahwa indikator keaktifan peserta didik dalam pembelajaran adalah (a) memperhatikan saat guru memberikan penjelasan, (b) mengajukan pertanyaan kepada guru terkait materi yang disampaikan, (c) menjawab pertanyaan dari guru terkait materi pelajaran yang disampaikan, (d) menyumbangkan ide yang didiskusikan  dalam kelompok, (e) membantu  dalam mencari jawaban teman dalam kelompok, dan (f) memberikan ide/pendapat pada kelompok.

 

Hasil Belajar

Hasil belajar dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses belajar. Hal ini selaras dengan pendapat Rusman (2017:130) bahwa hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh peserta didik yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Menurut Daryanto dan Tutik (2015:37-38) hasil belajar adalah adanya perubahan tingkah laku individu yang disadari, bersifat kontinu, bermanfaat, dan positif.

Menurut Jihad (2013:14) haasil belajar adalah pencapaian perubahan perilaku yang cenderung menetap dari aspek kognitif, psikomotor dan afektif dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Diantara tiga aspek itu aspek pengetahuan yang paling lazim diistilahkan dengan hasil belajar, yaitu berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pembelajaran.

 

Pembelajaran Kooperatif Model STAD

Student Teams Achievment Division (STAD) adalah model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, yang memadukan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi (Sani Abdullah Ridwan, 2013:133), At-Thabany (2017:122) juga menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif model STAD merupakan pembelajaran kooperatif yang sederhana, karena masih ada fase penyampaian informasi atau penyajian materi pelajaran.  Pembelajaran kooperatif atau sering disebut cooperative learning adalah model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk aktif bertukar pikiran dalam menyelesaikan masalah (Sukardi Ismail, 2013:139). Al-Thabany (2017:111) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja peserta didik dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu peserta didik memahami konsep yang sulit. Pembelajaran kooperatif memberikan keuntungan kepada peserta didik kelompok bawah dan kelompok atas. Menurut Anita Lie yang dikutip oleh Sukardi Ismail, Cooperative learning memiliki lima unsur yang harus diterapkan yaitu (a) saling ketergantungan positif, (b) tanggung jawab perseorangan, (c) tatap muka, (d) komunikasi antar anggota, (e) evaluasi proses kelompok

 

Sintak Pembelajaran Kooperatif Model STAD

Prosedur pembelajaran STAD menurut Sani Ridwan Abdullah (2013:134) dan menurut Budiyanto Moch. Agus Krisno (2016:137-138) tidak jauh beda yaitu (a) pembentukan kelompok, satu kelompok terdiri dari 4-5 orang yang heterogen kemampuannya, (b) guru menyajikan pelajaran, (c) guru memberikan tugas yang harus diselesaikan bersama dalam kelompok. (d) guru memberikan kuis/pertanyaan, peserta didik menjawab secara individual dan tidak boleh kerja sam, (e) guru memberi evaluasi, dan (f) guru memberikan penghargaan. Secara ringkas Sharan (2012:18) menerangkan bahwa aktivitas pembelajaran model STAD terdiri dari empat langkah, yaitu (1) mengajar, guru memberikan pelajaran, (b) belajar kelompok, peserta didik mengerjakan lembar tugas dalam kelompok mereka untuk memahami materi, (c) tes, peserta didik mengikuti kuis perorangan, dan (4) penghargaan kelompok, nilai kelompok dihitung berdasarkan pada nilai kemajuan para anggotanya dan penghargaan diberikan kepada kelompok yang memiliki nilai tertinggi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, sintak pembelajaran STAD yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.

a.     Pembukaan dengan doa, apersepsi, dan penjelasan mekanisme kerja (pembentukan kelompok dilakukan sebelum pembelajaran)

b.     Menyampaikan materi energi dan daya dalam bentuk (file pdf/word atau video) ke dalam kelas dlm Google Classroom

c.     Peserta didik mengerjakan soal latihan secara kelompok, guru mendampingi dan melayani konsultasi melalui chat WA (japri)

d.     Pemberian kuis secara individu

e.     Pemberian penghargaan kepada kelompok dengan hasil kuis terbaik

f.      Membuat kesimpulan tentang materi pembelajaran bersama dengan peserta didik

g.     Memberi penguatan tentang materi yang dibahas

h.     Menyampaikan tentang materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya

i.      Memberikan tugas.

 

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran STAD

Menurut Asmani Ma’mur Jamal (2016: 57-59) ada beberapa manfaat pembelajaran kooperatif bagi peserta didik, diantaranya (a) suasana kelas menjadi lebih hidup, (b) meningkatkan keaktifan, (c) mampu mengembangkan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan, (d) mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan reflektif, (e) mengembangkan kesadaran diri terhadap masalah sosial di lingkungan sekitarnya, (f) melatih kemampuan berkomunikasi, sehingga meningkatkan rasa percaya diri. Kelebihan model pembelajaran STAD menurut Budiyanto (2016:143) adalah (a) meningkatkan kerjasama dan kepekaan sosial, (b) meningkatkan pencurahan pada waktu tugas, (c) meningkatkan harga diri dan memperbaiki sikap ilmiah, (d) memperbaiki kehadiran, dan (e) penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar.

Kekurangan model pembelajaran STAD adalah (a) jika kerja sama kelompok tidak ada, maka tugas tidak akan selesai tepat waktu, (b) jika ada salah satu anggota kelompok berperilaku menyimpang, akan mempengaruhi yang lain, ((c) dapat mengganggu lingkungan jika situasi diskusi gaduh, (d) ketidakhadiran salah satu anggota kelompok akan mempengaruhi kinerja kelompok, dan (e ) ika pemanfaatan waktu dalam kelompok tidak baik, maka tugas tidak selesai tepat waktu.

Untuk keberhasilan pembelajaran kooperatif model STAD ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu (1) guru harus mengetahui kemampuan setiap siswa didalam kelas, implikasinya pemerataan tingkat kompetensi dari masing-masing kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD; (2) guru membuat persiapan dengan baik, implikasinya pembelajaran lebih teratur sebab ada langkah-langkah pembelajarna yang telah diuraikan terlebih dahulu, disamping itu guru benar-benar siap untuk melaksanakan pembelajaran karena sudah mempersiapkan terlebih dahulu

 

 

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Kegiatan dilaksanakan di kelas XII IPA-2 Madrasah Aliyah Negeri 2 Kebumen yang terdiri dari 30 anak dengan rincian 12 laki-laki dan 22 perempuan. Kegiatan dilakukan pada semester gasal tahun pelajaran 2021/2022, yaitu bulan Juni 2021 sampai dengan September 2021. Pelaksanaan pada hari Selasa 2 jam pelajaran (2x45 menit), dimulai pukul 08.30 sampai pukul 10.00 dan hari Jumat 3 jam pelajaran (3x45 menit), dimulai pukul 08.30 sampai pukul 10.45.Pelaksanaan  dilakukan dengan pembelajaran daring, karena kondisi yang belum mengizinkan untuk pembelajaran tatap muka. Dalam kegiatan ini dipilih materi pokok Medan Magnetik, karena materi Medan Magnetik (Medan Magnet Induksi) adalah materi baru yang belum diberikan di SMP/MTs, dan materi ini dianggap sebagai materi yang sulit. Materi Medan Magnetik terdiri dari beberapa sub materi yaitu Medan Magnet di sekitar kawat lurus, Medan Magnet di pusat kawat melingkar, Medan Magnet di sumbu solenioda dan Gaya Magnet atau Gaya Lorentz.

 

Prosedur Penelitian

Kegiatan dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus dilaksanakan dengan empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Siklus pertama terdiri dari dua pertemuan dan siklus kedua terdiri dari dua pertemuan.

1.     Perencanaan, meliputi penyusunan RPP, penyiapan bahan ajar, merancang instrumen untuk mengamati proses pembelajaran dan instrumen penilaian, berkoordinasi dengan guru sejawat sebagai observer.

2.     Tindakan, pelaksanaan kegiatan sesuai dengan RPP.

3.     Pengamatan, dilakukan oleh dilakukan oleh guru dan observer terhadap proses pembelajaran dalam Google Classroom, WA grup, dan pengamatan terhadap vidio rekaman proses pembelajaran.

4.     Refleksi, dilakukan bersama dengan guru sejawat (observer) berdasarkan hasil analisis dari data pengamatan yang diperoleh oleh guru, guru observer dan peserta didik, serta hasil test pada akhir siklus.

 

Analisis Data

Analisis data dalam kegiatan ini dilakukan dengan analisis deskriptif. Analisis deskriptif adalah analisis data yang hanya menguraikan dan menerangkan keadaan atau persoalan tanpa menarik kesimpulan terhadap data yang lebih luas atau dari populasi (Mahali : 2016,19).

1.     Tingkat Keaktifan

Tingkat keaktifan peserta didik secara perorangan dihitung dengan membandingkan skor capaian dan skor maksimum. Kemudian dibuat prosentase, sehingga akan lebih mudah mendeskripsikannya. Persamaan untuk menghitung keaktifan individual adalah sebagai berikut :

 


 Tingkat keaktifan secara menyeluruh diperoleh dengan menghitung rata-rata prosentase semua peserta didik. Prosentase rata-rata tingkat keaktifan dibandingkan dengan kriteria Pedoman Acuan Patokan (PAP). PAP adalah cara penilaian yang membandingkan antara skor perolehan dengan skor maksimal sesuai dengan pendapat Hairun (2020:44).

Kriteria PAP keaktifan belajar yang digunakan, berdasarkan acuan penilaian aspek sikap dalam kurikulum 2013 yang dikutip oleh Herman dan Yustiana (2014) yaitu:

Tabel 1. Kriteria Penilaian Acuan Patokan

Nilai

Predikat

Kriteria Keaktifan Belajar

81 – 100

SB

Sangat Aktif

66 – 80

B

Aktif

51 – 65

C

Cukup aktif

0 – 50

K

Kurang aktif

 

2.     Hasil Belajar

Hasil belajar peserta didik dihitung berdasarkan skor perolehan dalam tes.

 
 Sedangkan rata-rata hasil belajar peserta didik dihitung dengan membandingkan jumlah seluruh skor yang diperoleh peserta didik dengan jumlah skor total maksimal.

 

3.     Ketuntasan Belajar

Untuk menghitung ketuntasan belajar individual menggunakan acuan pada KTSP madrasah yaitu 70. Jika peserta didik mendapatkan skor tes kurang dari 70, dinyatakan belum tuntas dan jika capaian skor tes 70 atau lebih, maka dinyatakan tuntas. Ketuntasan klasikal dihitung dengan menghitung jumlah peserta didik yang tuntas dibandingkan dengan jumlah peserta didik dalam kelas tersebut.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.     Peningkatan Keaktifan Belajar

Data keaktifan peserta didik sebelum dilaksanakan tindakan ditinjau dari kehadiran peserta didik dalam video konferen, dalam 10 menit pertama hanya 25%. Dalam kegiatan video konferen hanya satu atau dua peserta didik yang berani bertanya. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk bertanya bukan hanya melalui video konferen, juga melalui chat WA, namun peserta didik tidak ada yang bertanya melalui chat WA. Dengan  pembelajaran asinkronus peserta didik di kelas XII IPA-2 yang mengerjakan latihan soal tepat waktu hanya 13 % yaitu 4 anak dari 30 anak.

 Data keaktifan peserta didik setelah tindakan terekap dalam tabel dan grafik berikut:

 Tabel 2. Keaktifan belajar berdasarkan angket

KATEGORI

SIKLUS 1

SIKLUS 2

Sangat aktif

9

11

Aktif

17

15

Cukup aktif

4

4

Kurang aktif

0

0

Tngkat keaktifan klasikal

87%

87%

 

Grafik 1.  Keaktifan berdasarkan observasi


Keaktifan rata-rata peserta didik sebelum tindakan adalah 25%, setelah tindakan berdasarkan angket pada siklus 1 dan siklus 2 adalah sama yaitu 87%, sedangkan keaktifan berdasarkan observasi oleh guru dan kolaborator bervasriasi. Pada siklus 1 pertemuan pertama prosentase keaktifan klasikal adalah 53,3 %. Siklus 1 pertemuan kedua prosentase keaktifan klasikal adalah 70,0 %. Pada siklus 2 pertemuan pertama prosentase keaktifan klasikal adalah 76,7 %. Sedangkan pada siklus 2 pertemuan 2 prosentase keaktifan klasikal adalah 80,0 %. Berdasarkan data-data di atas menunjukkan bahwa keaktifan peserta didik dalam pembelajaran setelah menerapkan pembelajaran model Student Teams Achievment Division (STAD) naik secara signifikan.

 

2.     Peningkatan hasil belajar

Rata-rata hasil penilaian kelas XII IPA-2 setelah penerapan dipaparkan dalam grafik berikut:

Grafik 2. Nilai capaian klasikal


Grafik 3. Ketuntasan belajar sebelum dan sesudah tindakan

 


Rata-rata hasil penilaian sebelum tindakan, pada kelas XII IPA-2 adalah 57. Hasil penilaian siklus 1 secara rata-rata adalah 67,57 dan hasil penilaian siklus 2 adalah 74,60. Ketuntasan secara klasikal pada siklus 1 adalah 63 %, sedangkan pada siklus 2 ketuntasan klasikal mencapai 70%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XII IPA-2. Demikian pula jika kita lihat berdasarkan hasil kuis tiap pertemuan, meski penambahan tidak drastis, namun nilai kuis tiap pertemuan menunjukkan peningkatan hingga di pertemuan terakhir nilai kuis mencapai hasil klasikal adalah 77,1%, sedangkan secara rata-rata diperoleh hasil 80%.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1.   Penerapan model pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD) pada materi medan magnet di kelas XII IPA-2 MAN 2 Kebumen tahun pelajaran 2021/2022 mampu meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran.

2.   Penerapan model pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD) pada materi medan magnet di kelas XII IPA-2 MAN 2 Kebumen tahun pelajaran 2021/2022 mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Asmani Jamal Ma’mur. 2016. Tips Efektif Cooperative Learning. Yogyakarta, Diva Press.

 Al-Thabany Trianto Ibnu Badar. 2017. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Profresif, dan Kontekstual. Jakarta. Kencana.

 Budiyanto Moch Agus Krisno. 2016. Sintaks 45 Metode Pembelajaran dalam Student Centered Learning (SCL). UMM Press. Malang.

 Daryanto dan Tutik Rahmawati. 2015. Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik. Yogyakarta. Gava Media.

 El Khuluqo Ihsana. 2017. Belajar dan PembelajaranKonsep Dasar ,Metode dan Aplikasi Nilai-nilai Spiritual dalam Proses Pembelajaran. Yogyakarta. Pustaka Belajar.

 Elis Nurhayati. 2020. Meningkatkan Keaktivan Siswa Dalam Pembelajaran Daring Melalui Media Game Edukasi Quiziz Pada Masa Pencegahan Penularan Covid -19. Paedagogy. Vol 7. No. 3.

 Hairun Yahya. 2020. Evaluasi dan Penilaian dalam Pembelajaran. Yogyakarta. Deepublish.

 Hanafy Muh. Sain. 2014. Konsep Belajar dan Pembelajaran. Lentera Pendidikan Vol. 17 No. 1 Juni 2014.

 Herman dan Yustiana. 2014. Penilaian Belajar Siswa di Sekolah.Yogyakarta. Kanisius

 Jihad Asep dan Haris Abdul. 2013. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta. Multi Pressindo.

 Kasmawati. 2020. Implementasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievemnt Divisions (STAD) Pada Proses Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Iqra’ Vol. 11 Nomor 1

 Rusman. 2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana.

 Sani Ridwan Abdullah. 2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta. Bumi Aksara.

 Sharan Shlomo. 2012. The Handbook of Cooperative Learning. Yogyakarta: Istana Media.

 Suharsimi Arikunto,dkk. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

 Sukardi Ismail. 2013. Model-model Pembelajaran Moderen. Yogyakarta. Tunas Gemilang Press.


Postingan Unggulan

LATIHAN SOAL MEDAN LISTRIK

 

Postingan Populer